Enam warga sipil tewas dalam serangan udara militer Arab Saudi di Pelabuhan Mokha, Yaman. Dua anak-anak dan seorang wanita termasuk di antara korban tewas dalam serangan tersebut.
Serangan itu dilaporkan kantor berita Saba yang berafiliasi dengan kelompok Houthi, seperti dilansir AFP dan Anadolu Agency, Selasa (22/9/2026). Houthi menyebut delapan orang lainnya terluka, termasuk seorang anak dan seorang wanita.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Enam warga sipil, termasuk dua anak-anak dan seorang wanita, tewas dan delapan lainnya, termasuk seorang anak dan seorang wanita, terluka dalam serangan udara koalisi pimpinan Saudi di Mokha," kata laporan Saba.
Serangan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara kelompok Houthi dan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi.
Dalam beberapa hari terakhir, Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan pesawat nirawak (drone) dan rudal balistik yang menargetkan ibu kota Saudi, Riyadh, serta fasilitas energi di sepanjang pesisir Laut Merah negara tersebut.
Arab Saudi diketahui memberikan dukungan kepada pemerintah Yaman dalam konflik melawan Houthi. Perang di Yaman bermula pada 2014 ketika Houthi merebut ibu kota Sanaa.
Alimi Minta Dukungan Trump
Di tengah konflik yang kembali memanas, Kepala badan pemerintahan Yaman, Rashad al-Alimi, melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden AS Donald Trump untuk meminta dukungan Amerika dalam menghadapi para pejuang pro-Iran.
Hal itu diungkap seorang sumber di kantor Alimi kepada AFP. Pembicaraan tersebut berlangsung pada Minggu (20/9).
Namun, Trump disebut tidak menjanjikan dukungan militer. Sumber tersebut mengatakan pembicaraan itu dimaksudkan sebagai bentuk solidaritas terhadap pemerintah Yaman yang sedang terdesak.
Media AS melaporkan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman juga telah mendesak Trump untuk menyerang kelompok Houthi.
Diketahui, kemajuan yang dicapai Houthi di Yaman telah memperkuat kendali Iran dan sekutunya atas dua jalur perairan utama, termasuk Selat Hormuz. Jalur tersebut menjadi tumpuan kawasan Teluk secara luas serta eksportir minyak mentah terbesar, Arab Saudi, untuk mendistribusikan minyak mereka.
Perang di Yaman bermula pada 2014 saat Houthi merebut ibu kota Sanaa. Konflik tersebut sebagian besar sempat terhenti sejak 2022, namun kembali berkecamuk pada Juli.
Arab Saudi telah memimpin koalisi yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional sejak 2015. Intervensi tersebut memperparah perang yang telah memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.
Sementara itu, perang di Timur Tengah dimulai pada 28 Februari dengan serangan AS-Israel terhadap Iran. Serangan itu kemudian dibalas Republik Islam tersebut dengan serangan di berbagai wilayah kawasan itu.
Selain itu, kelompok-kelompok yang didukung Iran, termasuk Houthi di Yaman dan Hizbullah di Lebanon, juga kemudian turut terlibat.
(dpw/dpw)