detikBali

Toilet Cuma 1, Pengungsi Nagekeo MCK di Pinggir Jalan Raya

Terpopuler Koleksi Pilihan

Toilet Cuma 1, Pengungsi Nagekeo MCK di Pinggir Jalan Raya


Sui Suadnyana, Yufengki Bria - detikBali

Pengungsi korban gempa mandi di pinggir Jalan Raya Trans Mbay-Ende, Kelurahan Lape, Kecamatan Aesesa, Nagekeo, NTT, Kamis (27/8/2026). Mereka mandi di sana karena tak ada fasilitas MCK. (Yufengki Bria/detikBali)
Foto: Pengungsi korban gempa mandi di pinggir Jalan Raya Trans Mbay-Ende, Kelurahan Lape, Kecamatan Aesesa, Nagekeo, NTT, Kamis (27/8/2026). Mereka mandi di sana karena tak ada fasilitas MCK. (Yufengki Bria/detikBali)
Nagekeo -

Sekitar 70-an warga korban gempa mengungsi di pos pengungsian Kelurahan Lape, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pengungsi didominasi warga Desa Nangadhero, Kecamatan Aesesa.

Namun, puluhan warga yang mengungsi hanya mengandalkan satu toilet untuk mandi, cuci, dan kakus (MCK). Kondisi ini terjadi sejak hari pertama mereka mengungsi. Walhasil, mereka terpaksa MCK di pinggir Jalan Raya Trans Mbay-Ende.

"Sekarang kami terkendala dengan MCK karena yang ada cuman satu unit saja," kata salah satu pengungsi, Siti Suliati (57), saat ditemui di lokasi, Kamis (27/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Siti menjelaskan mereka juga belum mendapatkan selimut. Selain itu, masker juga jadi kebutuhan utama karena anak-anak hingga orang tua kebanyakan terserang batuk dan pilek akibat debu.

ADVERTISEMENT

Tidak semua pengungsi di lokasi ini mendapat bantuan tenda yang layak. Sebagian besar pengungsi masih menggunakan tenda terpal. Alas lantai juga demikian.

Meski demikian, Siti mengaku kebutuhan makan dan minum masih tercukupi. "Alhamdulillah kebutuhan makan dan minum sudah tercukupi, tetapi yang dibutuhkan itu MCK, selimut, dan masker," jelas Siti.

Warga lain, Nunung, setali tiga uang. Sebagai perempuan, Nunung mengalami kesulitan saat membuang air kecil dan air besar akibat fasilitas MCK yang hanya tersedia satu unit.

Nunung berharap ada perhatian serius dari pemerintah untuk menyediakan fasilitas MCK darurat. Penyediaan MCK tambahan penting dilakukan agar pengungsi tak lagi MCK di pinggit jalan.

"Bangun darurat saja dengan terpal atau apa mungkin, intinya bisa menutup badan saat mandi dan buang air," jelas Nunung.

Nunung tinggal di tenda terpal sejak hari pertama mengungsi. Kondisi ini membuat Nunung khawatir dengan kesehatan kedua bayinya. Apalagi mereka hanya mengandalkan satu selimut.

"Dengan siang banyak sekali debu. Pingin sekali ada tenda yang layak seperti yang itu karena angin tidak masuk saat tidur siang dan malam. Kalau bisa kasih kasur juga karena saya ini kan ada anak bayi, kasihan juga anak tidur di terpal saja," terang Nunung.

Selain kebutuhan mendasar itu, pengungsi lainnya, Ahmad, juga kesulitan mencari kayu api untuk memasak. Ketersediaan kayu api yang minim membuat mereka mengupas kulit kayu yang mental lalu menjemurnya.

"Begini sudah. Kami potong kulitnya biar cepat kering baru bisa pakai untuk masak karena sudah beberapa hari kami tidak ada kayu api untuk masak," jelas Ahmad.



(hsa/hsa)











Hide Ads