Profesor Ines Mergel dari University of Konstanz, Jerman, mengaku baru mengetahui namanya dicantumkan tanpa izin dalam sebuah publikasi ilmiah asal Indonesia setelah menerima notifikasi dari Google Scholar.
Guru besar bidang Administrasi Publik itu menegaskan tidak pernah terlibat dalam penulisan artikel tersebut, meskipun identitas, afiliasi institusi, dan nomor ORCID miliknya tercantum.
"Saya sama sekali tidak pernah mengetahui keberadaan artikel tersebut, tidak pernah menulis satu kata pun di dalamnya," kata Mergel melalui korespondensi email dengan detikEdu, Kamis (29/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Artikel berjudul "Kolinearitas dan Regularisasi pada Model Layanan Publik Digital: Simulasi dalam Konteks Green Government" tersebut terbit di Ekliptika: Jurnal Inovasi Teknologi Berkelanjutan, Vol. 7 No. 1 edisi Juli 2026, halaman 17-30.
Berdasarkan salinan artikel yang diperoleh detikEdu, nama Mergel tercantum bersama Muhammad Khafid Ainul Yaqin dari Universitas Yudharta Pasuruan. Khafid diketahui mengajar di Program Studi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Yudharta.
Nama lain yang tercantum dalam publikasi tersebut adalah Rini Rachmawati, guru besar Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta; Yudho Giri Sucahyo, guru besar Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (UI); serta Marijn Janssen, profesor bidang ICT & Governance di Delft University of Technology, Belanda.
Dalam catatan jurnal, artikel tersebut diterima pada 5 Mei 2026, menjalani revisi pada 1 Juni 2026, dan disetujui untuk diterbitkan pada 7 Juli 2026. Adapun alamat email khafid@yudharta.ac.id tercantum sebagai kontak penulis korespondensi (corresponding author).
Terungkap Berkat Notifikasi Google Scholar
Mergel mengatakan dirinya tidak mengetahui pencatutan tersebut hingga Google Scholar mengirimkan notifikasi yang memintanya menambahkan artikel itu ke daftar publikasi akademiknya.
"Seandainya Google secara otomatis memasukkan artikel itu ke dalam daftar publikasi saya, mungkin saya tidak akan menyadarinya untuk beberapa waktu," ujarnya.
Setelah menerima pemberitahuan itu, Mergel menghubungi penulis korespondensi melalui email. Ia meminta agar namanya dihapus karena tidak pernah menulis artikel tersebut.
Jurnal Ekliptika Foto: Dok. Ines Mergel |
Namun, jawaban yang diterimanya justru memunculkan pertanyaan. Menurut Mergel, penulis korespondensi mengaku tidak mengingat pernah menulis artikel itu. Ia juga menyatakan bahwa topik yang dibahas berada di luar bidang keahliannya.
"Ia mengirimkan pernyataan berikut lewat email: 'Terkait masalah ini, saya tidak ingat pernah menulis artikel yang dimaksud. Selain itu, topik artikel tersebut berada di luar bidang keahlian saya'," kata Mergel.
Belakangan, Mergel menerima email lain yang berisi permintaan maaf dari penulis korespondensi. Perubahan tersebut membuatnya menilai bahwa yang bersangkutan akhirnya mengakui keterlibatannya dalam penulisan artikel, setelah sebelumnya mengaku tidak ingat pernah menulisnya.
"Tampaknya ia kini mengakui dirinya sebagai penulis artikel tersebut setelah kemarin menyangkalnya. Saya juga menerima permintaan maaf dari editor, tetapi editor tersebut tidak menyebutkan namanya," tulis Mergel dalam unggahan LinkedIn.
Guru Besar UI Akui Namanya Turut Dicatut
Guru besar Ilmu Komputer UI Yudho Giri Sucahyo menyatakan tidak mengetahui namanya tercantum dalam artikel tersebut. "Ya, nama saya juga dicatut," ujar Yudho kepada detikEdu, Kamis (29/10/2026).
Yudho menyatakan keberatan atas pencantuman namanya tanpa sepengetahuan dan persetujuannya. Ia pun berencana menindaklanjuti persoalan tersebut melalui jalur resmi. "Tentu nanti saya akan menyatakan keberatan melalui jalur resmi," katanya.
Ia menegaskan agar para pengajar mengutamakan etika akademik dalam melaksanakan tridarma perguruan tinggi. "Semoga kejadian ini dapat menjadi pelajaran bagi para pihak untuk dapat mengedepankan etika akademik dalam melaksanakan tridarma perguruan tinggi," tuturnya.
Dewan Editor Jurnal Ekliptika Akhirnya Tarik Artikel
Setelah menerima protes dari Profesor Mergel, respons awal dari pihak editor jurnal adalah melakukan penarikan dengan mengoreksi daftar penulis pada artikel.
Menurut Mergel, dalam pemberitahuan penarikan (retraction notice) tersebut, seluruh nama co-author dihapus. Nama Muhammad Khafid Ainul Yaqin sebagai penulis korespondensi menjadi satu-satunya nama penulis yang tersisa.
Kebijakan koreksi kepenulisan tersebut sangat tidak memuaskan Mergel. Ia keberatan karena koreksi tersebut berpotensi memberikan kesan seolah-olah dirinya secara sukarela memilih untuk tidak lagi dicantumkan sebagai penulis.
"Pemberitahuan tersebut benar-benar konyol, seolah-olah menyatakan saya telah berubah pikiran dan tidak lagi ingin dicantumkan sebagai penulis," ujarnya.
Setelah melalui proses tersebut, Dewan Editor Ekliptika akhirnya memutuskan untuk menarik artikel secara penuh. Dikutip dari pemberitahuan penarikan yang telah diperbarui pada 29 Oktober 2026, keputusan untuk menarik artikel tersebut didasarkan pada pertimbangan di antaranya sejumlah individu dicantumkan dalam daftar penulis artikel yang telah diterbitkan tanpa sepengetahuan atau persetujuan mereka sebelumnya.
"Jurnal mengakui pencantuman tersebut tidak memenuhi persyaratan otorisasi kepenulisan yang semestinya," dalam surat pemberitahuan yang dikeluarkan oleh Editor Pelaksana Ekliptika, Rudi Kurniawan, ST, MT.
Artikel yang akhirnya ditarik oleh editor jurnal Ekliptika Foto: Dok. Ines Mergel |
Dewan Editorial juga menyatakan informasi kepenulisan yang dipublikasikan tidak secara akurat mencerminkan keterlibatan ilmiah semua individu yang namanya tercantum. Pihak jurnal menegaskan individu-individu yang terdampak tidak pernah menjadi penulis pendamping (co-author) yang sah untuk artikel tersebut.
"Koreksi nama dan afiliasi mereka setelahnya tidak boleh ditafsirkan sebagai pengunduran diri sukarela dari status kepenulisan yang sebelumnya telah mereka terima," seperti dikutip dari surat tersebut.
DetikEdu berusaha menghubungi Muhammad Khafid Ainul Yaqin yang tercantum sebagai penulis korespondensi dan Editor Pelaksana Ekliptika Rudi Kurniawan, ST, MT untuk mengonfirmasi keterangan Ines Mergel. Namun, hingga laporan ini ditulis, mereka tidak menanggapi pesan yang dilayangkan.
Saksikan Live DetikPagi:
Simak Video "Video: Siswa Tak Otomatis naik Kelas, Ancaman untuk Siapa?"
[Gambas:Video 20detik] (pal/nwk)


